6 Apr / 2016

Kenangan Ngaji Di PonPes Attauhidiyah Kyai Ahmad Giren

Masya allah sampai sekarang ini saya ingin sekali ikut lagi pengajian di pondok attauhidiyah giren talang tegal, karena banyak ilmu yang saya dapatkan dahulu meskipun saya bukan santri pondok ini, saya dulu rutin mengikuti kegiatan pondok atau yang biasa disebut dengan Santri kalong. Berbagai Kenangan Ngaji Di PonPes Attauhidiyah Kyai Ahmad Giren membekas di ingatanku dan salah satunya yaitu saat romo kyai ahmad menampar saya melalui cerita.

Cerita ini bukan rekayasa dan saya tidak mengarang sedikitpun, karena ini benar-benar yang saya alami ketika saya dulu masih sering ikut ngaji di pondok giren.

Kala itu saya baru pulang sekolah SMK dan disekolah saya mendapat masalah kemudian membawa rasa marah kerumah, kemudian dirumah ibu memasak sayur asem.

Setelah berganti pakaian saya langsung ambil piring untuk makan, saya melihat di meja makan hanya ada nasi dan sayur asem saja. Dalam hati saya menggerutu “ah makanannya cuma sayur asem doang“.

Kemudian saya menuju ruang tengah berniat makan sambil nonton televisi, ibu saya keluar dari kamar dan melihat saya makan tidak dengan sayur asem. Ibu mengambilkan satu mangkok sayur asem dan berkata “Mas ini dimakan, ibu sudah masakin kok tidak dimakan?

Saya langsung menjawab dengan ketus, “Ah makanan cuma sayur asem doang, terus asem-nya kebanyakan nih masa yang dimakan cuma asem doang.” Tidak tau apa yang ibu pikirkan saat itu, namun ibu hanya diam saja.

Malam harinya saya berangkat ke pondok attauhidiyah giren untuk ngaji rutin malam minggu.

Singkat cerita ditengah-tengah pembahasan ngaji, kyai ahmad bin said berhenti menerangkan. Diam sejenak kemudian bercerita seperti ini.

Kyai Ahmad Giren

Berikut kisah saya saat mengikuti pengajian di pondok attauhidiyah giren waktu itu.

“Kabeh santri pondok karo santri kalong, diusahakan tingkah lakune nang njaba sing apik ya, omongane ya sing apik.”

Dalam bahasa indonesia, semua santri pondok dan santri kalong, diusahakan tingkah lakunya diluar (pondok) yang bagus ya, bicaranya juga yang baik.

“Ora kena ngala-ala uwong liya, ora kena ngala-ala ciptaane allah, malah ora kena ngala-ala panganan. Nek ora ana panganan, koen pan mangan apa?”

Dalam bahasa indonesia, tidak boleh mencela orang lain, tidak boleh mencela ciptaan allah, juga tidak boleh mencela makanan. Kalau tidak ada makanan, mau makan apa kamu?

“Sing paling penting ora kena gawe lara atine wong tuwa loro, apa maning ibu.”

Yang paling penting tidak boleh membuat sakit hatinya kedua orang tua, khususnya ibu.

“Ibune wis lairna kowen, aja dilarani. Ibune wis masakna nggo kowen ya aja di larani atine.”

Ibumu sudah melahirkan kamu, jangan disakiti. Ibumu sudah memasak’kan untuk kamu ya jangan dibuat sakit hatinya.

“Ana santri slawi ngomong ora enak maring ibune, ngelarani atine”

Ada santri slawi berbicara tidak enak kepada ibunya, menyakiti hatinya.

“mak panganan apa kiye, jangan asem isine suket tok. Nek kaya kiye ora bisa dipangan menungsa kiye, kiye tah panganane celeng.”

Bu makanan apa ini, jangan asem (sayur asem) kok isinya rumput doang. Kalau seperti ini tidak bisa dimakan manusia ini, ini sih makanan celeng (babi hutan).

“Nek kaya kuwe dosa gede. Mulane aku ngomong kaya kiye, ben para santri pada eling ya. Jaluk ngapura kuwe jaluk ngapura. Yaa allah, muga-muga aku sampeyan kabeh di ngapura.”

Kalau seperti itu dosa besar. Makanya saya berbicara seperti ini, agar para santri selalu ingat ya. Minta maaf itu minta maaf. Yaa allah, semoga aku anda semua dimaafkan.

Intisari Dari Pengalaman Saya

Subhanallah kyai ahmad bisa mengetahui kejadian yang saya alami tadi siang, sedangkan saya tidak menceritakan pada siapapun. Apalagi ibuku tidak mungkin menceritakan ke orang lain, karena ibu tidak banyak kenal ke santri kalong apalagi santri pondok dalem.

Untuk itu saya disini hanya berbagi pengalaman, untuk para santri semua yang membaca tulisan saya ini. Berlaku baik-lah kalian karena para ustad, kyai, syech, guru kalian mungkin saja mengetahui perilaku kalian diluar bagaimana.

Kalau ada yang mengatakan itu hal kebetulan saja, kemungkinan ini kebetulan sangat kecil karena tepat sekali dengan kejadian saya disiang harinya. Itulah sangat pantas jika ada yang beranggapan bahwa Kyai Ahmad bin Said pondok Giren adalah salah satu wali atau kekasih allah yang bisa melakukan hal diluar perkiraan.

Sebenarnya banyak bukti kewalian kyai ahmad giren namun satu kisah ini saja lebih dari cukup. Dan akhirnya sepulangnya saya dari pengajian, saya langsung meminta maaf kepada ibu dirumah.

Saya menceritakan bahwa tadi telah dibahas oleh kyai ahmad mengenai kejadian yang saya alami, dan ibu saya menasihati saya agar selalu berperilaku baik apalagi menjadi santri (kalong) di giren.

Saya mohon maaf jika saya menuliskan kata yang mungkin kurang pantas seperti kata celeng (babi), saya mohon para pembaca bijak dalam ambil pelajaran disini. Kyai ahmad sedang mencontohkan perkataan buruk dari anak kepada ibunya, dan itu tidak boleh dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *